Rabu, November 4, 2026
BogorPemerintah Desa

Pemdes Sirnagalih Bersama Pemcam Jonggol Bersinergi Dalam Pencegahan Stunting, Targetkan Peningkatan PMT Lokal

Jonggol Bogor | Klikinfoku.com

Pemerintah Desa Sirnagalih bersama Pemerintah Kecamatan Jonggol bersama tenaga kesehatan terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya percepatan penanganan dan pencegahan stunting.

Langkah strategis ini dibahas secara komprehensif dalam kegiatan Rembuk Stunting yang digelar di Desa Sirnagalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor pada Rabu 4 November 2026.

Kegiatan dihadiri Kepala Desa Sirnagalih Mutiara Iqlima S.Fam, Pj Sekcam Jonggol Dadang Yazid Bustomi, petugas PLKB, Kader Posyandu dan Bidan.

Terkuak berdasarkan data tahun 2026, tercatat sebanyak 18 anak di Desa Sirnagalih mengalami stunting.  Melalui forum ini, seluruh jajaran lintas sector mulai dari Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, Kader Posyandu, hingga tenaga kesehatan didorong untuk mempererat koordinasi demi menekan angka stunting secara berkelanjutan di 14 desa se-Kecamatan Jonggol

Pihak Kecamatan Jonggol, Pj Sekcam Dadang Yazid Bustomi, menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan pergerakan aktif seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW, tokoh masyarakat, hingga keluarga.

Selain pemenuhan gizi, perhatian penuh juga diarahkan pada perbaikan sanitasi lingkungan, penyediaan air bersih, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sementara itu Kepala Desa Sirnagalih, Mutiara Iqlima, S.Fam., menyampaikan komitmennya untuk terus memaksimalkan program penanggulangan stunting yang telah berjalan sejak 2025.

Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah peningkatan intensitas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal.

“Jika pada tahun 2026 pemberian PMT lokal baru berjalan dua hingga tiga kali, ke depannya di tahun 2027 kami menargetkan program PMT dapat rutin diberikan setiap bulan kepada anak-anak yang terdampak,” ujar Mutiara.

Ia menambahkan, Pemdes Sirnagalih juga memfokuskan intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang mencakup remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. Selain itu, pembangunan sarana pendukung seperti air bersih dan MCK komunal di tiap wilayah terus diupayakan guna memastikan lingkungan tumbuh kembang anak tetap sehat.

Bidan Pelaksana dari Puskesmas Balekambang, Amah Nuryanah, AMK., menekankan pentingnya meningkatkan angka kehadiran masyarakat ke Posyandu untuk memantau tumbuh kembang balita dan mendeteksi dini risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil.

“Pencegahan stunting dimulai dari partisipasi aktif masyarakat di Posyandu. Kami juga rutin memberikan edukasi melalui kelas ibu hamil dan ibu balita, serta penyaluran tablet tambah darah bagi remaja putri di sekolah untuk mencegah anemia,” jelas Amah.

Terkait temuan 18 kasus stunting pada 2026, Amah memaparkan sejumlah faktor pemicu, antara lain riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)—yang saat ini mencatat dua kasus pemantauan khusus—masalah gizi kurang/buruk, pola asuh, kondisi sosio-ekonomi, serta tingkat pemahaman orang tua mengenai gizi.

Untuk itu, ia menyarankan agar menu PMT lokal diolah lebih bervariasi dan menarik setiap bulannya agar anak lebih terstimulasi untuk mengonsumsinya.

Melalui sinergi erat antara Pemerintah Kecamatan Jonggol, Pemdes Sirnagalih, Puskesmas Balekambang, dan para kader Posyandu, diharapkan seluruh program pencegahan stunting dapat berjalan optimal demi melahirkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas. (Dewi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *